Skip to main content

Masukkan nomor hadits dari 1 sampai 26363

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ فِي تَفْسِيرِ ابْنِ جُرَيْجٍ الَّذِي أَمْلَاهُ عَلَيْهِمْ أَخْبَرَنِي يَعْلَى بْنُ مُسْلِمٍ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخِرِ وَغَيْرُهُمَا قَالَ قَدْ سَمِعْتُ يُحَدِّثُهُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ
إِنَّا لَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ فِي بَيْتِهِ إِذْ قَالَ سَلُونِي فَقُلْتُ أَبَا عَبَّاسٍ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ بِالْكُوفَةِ رَجُلٌ قَاصٌّ يُقَالُ لَهُ نَوْفٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ لَيْسَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَمَّا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ وَأَمَّا يَعْلَى بْنُ مُسْلِمٍ فَقَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ حَدَّثَنِي أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مُوسَى رَسُولَ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام ذَكَّرَ النَّاسَ يَوْمًا حَتَّى إِذَا فَاضَتْ الْعُيُونُ وَرَقَّتْ الْقُلُوبُ وَلَّى فَأَدْرَكَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ فِي الْأَرْضِ أَحَدٌ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ لَا قَالَ فَعُتِبَ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ إِنَّ لِي عَبْدًا أَعْلَمَ مِنْكَ قَالَ أَيْ رَبِّ وَأَنَّى قَالَ مَجْمَعُ الْبَحْرَيْنِ قَالَ أَيْ رَبِّ اجْعَلْ لِي عَلَمًا أَعْلَمُ ذَلِكَ بِهِ قَالَ لِي عَمْرٌو قَالَ حَيْثُ يُفَارِقُكَ الْحُوتُ وَقَالَ يَعْلَى خُذْ حُوتًا مَيْتًا حَيْثُ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَأَخَذَ حُوتًا فَجَعَلَهُ فِي مِكْتَلٍ قَالَ لِفَتَاهُ لَا أُكَلِّفُكَ إِلَّا أَنْ تُخْبِرَنِي حَيْثُ يُفَارِقُكَ الْحُوتُ قَالَ مَا كَلَّفْتَنِي كَثِيرًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
{ إِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ }
يُوشَعَ بْنِ نُونَ لَيْسَتْ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ فَبَيْنَا هُوَ فِي ظِلِّ صَخْرَةٍ فِي مَكَانٍ ثَرْيَانٍ إِذْ تَضَرَّبَ الْحُوتُ وَمُوسَى نَائِمٌ قَالَ فَتَاهُ لَا أُوقِظُهُ حَتَّى إِذَا اسْتَيْقَظَ نَسِيَ أَنْ يُخْبِرَهُ وَتَضَرَّبَ الْحَوْتُ حَتَّى دَخَلَ الْبَحْرَ فَأَمْسَكَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِ جِرْيَةَ الْبَحْرِ حَتَّى كَأَنَّ أَثَرَهُ فِي حَجَرٍ فَقَالَ لِي عَمْرٌو وَكَأَنَّ أَثَرَهُ فِي حَجَرٍ وَحَلَّقَ إِبْهَامَيْهِ وَاللَّتَيْنِ تَلِيَانِهِمَا
{ لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا }
قَالَ قَدْ قَطَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْكَ النَّصَبَ لَيْسَتْ هَذِهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَأَخْبَرَهُ فَرَجَعَا فَوَجَدَا خَضِرًا عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ لِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ عَلَى طِنْفِسَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى كَبِدِ الْبَحْرِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ مُسَجًّى ثَوْبَهُ قَدْ جَعَلَ طَرَفَهُ تَحْتَ رِجْلَيْهِ وَطَرَفَهُ تَحْتَ رَأْسِهِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ مُوسَى فَكَشَفَ عَنْ وَجْهِهِ وَقَالَ هَلْ بِأَرْضِكَ مِنْ سَلَامٍ مَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا مُوسَى قَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا شَأْنُكَ قَالَ جِئْتُ لِتُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا قَالَ أَمَا يَكْفِيكَ أَنَّ أَنْبَاءَ التَّوْرَاةِ بِيَدِكَ وَأَنَّ الْوَحْيَ يَأْتِيكَ يَا مُوسَى إِنَّ لِي عِلْمًا لَا يَنْبَغِي أَنْ تَعْلَمَهُ وَإِنَّ لَكَ عِلْمًا لَا يَنْبَغِي أَنْ أَعْلَمَهُ فَجَاءَ طَائِرٌ فَأَخَذَ بِمِنْقَارِهِ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا عِلْمِي وَعِلْمُكَ فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَمَا أَخَذَ هَذَا الطَّائِرُ بِمِنْقَارِهِ مِنْ الْبَحْرِ حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ وَجَدَا مَعَابِرَ صِغَارًا تَحْمِلُ أَهْلَ هَذَا السَّاحِلِ إِلَى هَذَا السَّاحِلِ عَرَفُوهُ فَقَالُوا عَبْدُ اللَّهِ الصَّالِحُ فَقُلْنَا لِسَعِيدٍ خَضِرٌ قَالَ نَعَمْ لَا يَحْمِلُونَهُ بِأَجْرٍ فَخَرَقَهَا وَدَقَّ فِيهَا وَتِدًا قَالَ مُوسَى
{ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا }
قَالَ قَالَ مُجَاهِدٌ نُكْرًا
{ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا }
وَكَانَتْ الْأُولَى نِسْيَانًا وَالثَّانِيَةُ شَرْطًا وَالثَّالِثَةُ عَمْدًا
{ قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا }
فَلَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ يَعْلَى بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَجَدَا غِلْمَانًا يَلْعَبُونَ فَأَخَذَ غُلَامًا كَافِرًا كَانَ ظَرِيفًا فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ بِالسِّكِّينِ قَالَ
{ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً }
لَمْ تَعْمَلْ بِالْحِنْثِ فَانْطَلَقَا فَوَجَدَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ سَعِيدٌ بِيَدِهِ هَكَذَا وَرَفَعَ يَدَهُ فَاسْتَقَامَ قَالَ يَعْلَى فَحَسِبْتُ أَنَّ سَعِيدًا قَالَ فَمَسَحَهُ بِيَدِهِ فَاسْتَقَامَ
{ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا }
قَالَ سَعِيدٌ أَجْرًا نَأْكُلُهُ قَالَ وَكَانَ يَقْرَؤُهَا
{ وَكَانَ وَرَاءَهُمْ }
وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقْرَؤُهَا وَكَانَ أَمَامَهُمْ مَلِكٌ يَزْعُمُونَ عَنْ غَيْرِ سَعِيدٍ أَنَّهُ قَالَ هَذَا الْغُلَامُ الْمَقْتُولُ يَزْعُمُونَ أَنَّ اسْمَهُ جَيْسُورُ قَالَ
{ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا }
وَأَرَادَ إِذَا مَرَّتْ بِهِ أَنْ يَدَعَهَا لِعَيْبِهَا فَإِذَا جَاوَزُوا أَصْلَحُوهَا فَانْتَفَعُوا بِهَا بَعْدُ مِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ سَدُّوهَا بِقَارُورَةٍ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ بِالْقَارِ وَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ وَكَانَ كَافِرًا
{ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا }
فَيَحْمِلُهُمَا حُبُّهُ عَلَى أَنْ يُتَابِعَاهُ عَلَى دِينِهِ
{ فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا }
هُمَا بِهِ أَرْحَمُ مِنْهُمَا بِالْأَوَّلِ الَّذِي قَتَلَهُ خَضِرٌ
وَزَعَمَ غَيْرُ سَعِيدٍ أَنَّهُمَا قَالَا جَارِيَةٌ وَأَمَّا دَاوُدُ بْنُ أَبِي عَاصِمٍ فَقَالَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ إِنَّهَا جَارِيَةٌ وَبَلَغَنِي عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّهَا جَارِيَةٌ وَوَجَدْتُهُ فِي كِتَابِ أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ يُوسُفَ مِثْلَهُ

Terjemahan/Arti Hadits:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ibrahim Al Marwazi[1] ia berkata, telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Yusuf[2] dalam tafsir Ibnu Juraij[3] yang telah ia bacakan kepada mereka, telah mengkabarkan kepadaku Ya'la bin Muslim[4], dan Amru bin Dinar[5] dari Sa'id bin Jubair[6] -salah satunya menambahkan pada yang lainnya dan selain keduanya- ia berkata, Aku mendengar ia menceritakannya dari Sa'id bin Jubair ia berkata, "Sewaktu kami berada di sisi Abdullah bin Abbas[7] di rumahnya, ia berkata, 'Tanyakan padaku, ' Aku pun bertanya, "Wahai Abu Abbas, semoga Allah jadikan aku sebagai tebusanmu. Di Kufah ada seorang laki-laki tukang cerita (penasihat) yang bernama Nauf, ia beranggapan bahwa orang yang pergi mencari ilmu itu bukanlah Musa yang berasal dari bani Israil?" Amru bin Dinar[5] berkata, "Sungguh berbohong si musuh Allah!", sementara Ya'la bin Muslim[4] berkata, Ibnu Abbas[10] berkata, " Ubay bin Ka'b[11] menceritakan kepadaku, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Suatu ketika Musa utusan Allah berbicara di hadapan kaumnya hingga ketika air mata telah berlinang dan hari bergetar, ia pergi berlalu. Lalu ada seorang laki-laki yang bertemu dengannya, laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah di bumi ini ada orang yang lebih pandai darimu?" Musa menjawab, "Tidak." Rasulullah melanjutkan ceritanya: "Maka ia dipersalahkan saat tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah Tabaaraka Wa Ta'ala, Allah lantas mewahyukan bahwa: 'Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang lebih pandai dari kamu.' Musa pun bertanya, "Wahai Rabb, di manakah ia?" Allah menjawab: "Dipertemuan antara dua laut." Musa kemudian mengharap, "Wahai Rabb, berilah aku tanda yang bisa aku gunakan untuk bisa bertemu dengannya." Ubay berkata, "Amru berkata kepadaku, "Rasulullah menyebutkan: "Tempat di mana kamu kehilangan ikan." Sementara Ya'la menyebutkan, "Ambillah ikan mati yang bisa ditiupkan ruh di dalamnya." Maka Musa pun mengambil ikan dan meletakkannya ke dalam keranjang, ia lalu berkata kepada pelanyannya, 'Aku tidak akan memberi beban kepadamu kecuali engkau kabarkan kepadaku tempat di mana ikan itu hilang darimu." Ia menjawab, "Engkau tidak banyak membebaniku." Maka itulah yang di maksudkan firman Allah: "Dan ketika Musa berbicara dengan pelayannya, Yusya' bin Nun." Sa'id bin Jubair[6] menyebutkan, "Ketika ia berada di sebuah batu besar, ikannya bergoncang, sedang Musa dalam keadaan tidur." Pelayannya pun berkata, "Aku tidak akan membangunkannya." Hingga ketika Musa terbangun pelayannya tersebut lupa untuk memberi kabar kepadanya. Sementara ikan tersebut telah meronta-ronta hingga masuk ke dalam laut. Allah lalu menghentikan gelombang pada air laut sehingga seakan-akan bekas ikanitu ada pada bebatuan. Amru[13] menyebutkan kepadaku, "Seakan bekasnya ada pada bebatuan." -lalu ia melingkarkan kedua ibu jari dan dua jari setelahnya-. '(Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini) ' (Qs. Al Kahfi: 62). Pelayannya berkata, "Sungguh Allah telah menghilangkan keletihan ini darimu." -namun riwayat ini tidak berasal dari Sa'id bin Jubair-. Pelayan tersebut lantas mengabarkan kepada Musa (bahwa ikannya telah hilang), maka keduanya kembali hingga bertemu dengan Hidlir Alaihis Salam." Ubay berkata; Utsman bin Sulaiman menyebutkan kepadaku, "Khidlir mengenakan pakaian hijau di tengah laut." Sementara Sa'id bin Jubair menyebutkan, "Dengan pakaian yang bersulam, bagian ujung ia jadikan pada dua kakinya dan ujung lain di bagian bawah kepalanya. Musa lalu mengucap salam kepadanya seraya membuka wajah (Khidlir). Khidlir berkata, "Apakah di negerimu ada salam? Siapa kamu?" Musa menjawab, "Aku adalah Musa." Khidlir bertanya lagi, "Musa bani Israil?" Musa membalas, "Ya." Khidlir bertanya lagi, "Lalu apa keperluanmu?" Musa menjawab, "Aku datang agar engkau bisa mengajarkan kepadaku petunjuk yang telah diajarkan kepadamu." Khidlir berkata, "Wahai Musa, tidakkah telah cukup bagimu kabar-kabar dari Taurat, sedang wahyu selalu turun kepadamu? Sungguh aku memiliki ilmu yang tidak bisa engkau kuasai, demikian juga engkau memiliki ilmu yang tiada bisa aku kuasai." Lalu datanglah seekor burung yang meminum air laut. Khidlir berkata, "Demi Allah, Ilmuku dan ilmumu sama sekali tidak mengurangi keagungan ilmu Allah, kecuali seperti burung ini meminum air lautan." Lalu keduanya berjalan di pesisiran hingga keduanya mendapatkan perahu kecil yang membawa penumpang menuju pantai yang lain. Dan mereka bisa mengenali Khidlir. Mereka berkata, "Ini Hamba Allah yang Shaleh!" Kami bertanya pada Sa'id, "Apakah itu Khidlir?" Ia menjawab, "Ya, mereka memberi tumpangan kepadanya tanpa upah." Namun kemudian Khidlir melubangi perahu tersebut hingga Musa pun berkata, '(Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar) ' (Qs. Al Kahfi: 71). Perawi berkata, "Mujahid menyebutkan dengan lafadz 'Nukra' (membahayakan)." '(KHidlir menjawab; "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku) ' (Qs. Al Kahfi: 72). Yang pertama adalah karena lupa, yang kedua dengan syarat dan yang ketiga karena sengaja." Musa berkata: ('Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku) ' (Qs. Al Kahfi: 73). Tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidlr membunuhnya. Ya'la bin Muslim berkata, Sa'id bin Jubair menyebutkan, "Keduanya bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain, dan ia adalah seorang yang kafir, Khidlir pun menangkap dan menyembelihnya dengan pisau. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar." Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidlir menegakkan dinding itu." Sa'id berkata dengan isyarat tangannya seperti ini -ia mengangkat kedua tangannya- hingga tegak." Sementara Ya'la berkata, "Menurutku Sa'id menyebutkan, "Lalu ia mengusap dengan tangannya hingga dinding itu pun tegak." Musa berkata: ('Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu) ' (Qs. Al Kahfi: 77). Sa'id menyebutkan, "Yaitu upah yang bisa kita gunakan untuk makan." Dan Sa'id membaca dengan lafadz 'WA KAANA WARAA`AHUM (karena di belakang mereka ada…), sementara Ibnu Abbas membacanya dengan lafadz 'WA KAANA AMAAMAHUM MALIK (karena di hadapan mereka ada seorang raja…) -mereka beranggapan bahwa Selain Sa'id berkomentar bila anak kecil yang dibunuh bernama Jaisur, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera dan Khidir menginginkan bila si raja lewat maka raja membiarkan saja karena ada kerusakan, hingga setelah mereka melanjutkan perjalanan, mereka bisa kembali memperbaikinya hingga bermanfaat kembali. Ada pendapat mereka menambalnya dengan botol, ada pendapat mereka tambal dengan ter. Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, sedang ia kafir, maka kami khawatir bahwa dia akan memaksa kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran, sehingga kecintaan kepada anak itu menggiring keduanya untuk mengikuti agamanya (anak). Maka Khidlir menginginkan agar Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik, lebih suci, lagi berkasih sayang, dan kecintaan keduanya kepadanya melebihi kecintaan kepada anak yang dibunuh Khidir." Dan selian Sa'id beranggapan bahwa keduanya (Sa'id dan Ibnu Abbas) mengatakan jika pengganti anak yang dibunuh Khidlir itu adalah seorang budak wanita." Sedang Dawud bin Ashim dari sumber yang tidak cuma satu berkata, "Sesungguhnya ia (pengganti anak yang dibunuh Khidlir) adalah seorang budak wanita." Dan telah sampai kepadaku dari Sa'id bin Jubair[6] bahwa dia adalah budak wanita, dan aku mendapatkannya dari tulisan Ayahku dari Yahya bin Ma'in[15] dari Hisyam bin yusuf[16] seperti itu."