Oleh Fathelvi Mudaris

Sungguh, langkah itu masih sangat panjang. Perjuangan itu masih sangat berat. Memilih jalan ini, bukan tanpa konsekuensi. Memilih jalan ini, pun bukan untuk bersenang-senang dengan keni’matan duniawi yang fana dan melenakan. Memilih jalan ini, adalah memilih jalan yang sulit, berliku, dengan tanjakan yang curam dan jurang di sekelilingnya. Warnanya bukan hanya merah, hijau dan biru, tapi juga kelabu dan kelam.

Tapi, berbahagialah, karena engkau telah Allah pilih. Yah, karena Allah telah memilih engkau sebagai bagian dari golongan yang sedikit ini, yang akan menukil jalan yang penuh hantaman gelombang, penuh duri, penuh pengorbanan. Saudaraku, engkaulah yang dipilih Allah untuk menghadapi baku hantam gelombang itu, badai, terpaan, halilintar. Karena setiap kebaikan itu, selalu saja ada penghalang yang akan menggoyahkannya. Tapi, itulah seyogyanya sebuah perjuangan. Bukan,…bukan hanya dengan harta saja, tapi, dengan Jiwa! Yah, dengan jiwa kita! Bukankah Allah senantiasa menyejajarkan antara harta dan jiwa di dalam surat cinta-Nya, Al Qur’an?

Saudaraku, ijinkan aku untuk mengungkapkan apa yang aku rasa. Sungguh, apa yang kutulis ini, adalah dalam rangka untuk mengingatkan diriku sendiri. Yang menyampaikan, tidak lebih baik dari yang orang-orang disampaikan. Yang menyampaikan, jauh lebih sedikit ‘ilmunya dari pada orang-orang yang disampaikan. Tapi, aku hanya ingin berbagi keresahan dengan saudara-saudaraku sekalian…

Saudaraku,…
Selayaknya sebuah seleksi alam, maka pasti ada yang pergi, dan ada yang datang. (Semoga Allah tetap memilih kita menjadi laskar-Nya, dan semoga Allah mengganti mereka yang pergi dengan generasi yang lebih baik lagi).

Entahlah, berbeda saja warna rasanya ketika pertama kali menginjakkan kaki: di dunia pergerakan da’wah ini. Kuhitung-hitung, ada belasan pejuang yang dengan semangat barunya mengobarkan panji Islam. Allahu ghoyatuna menjadi simbol utama, di setiap tangan yang terkepal. Di setiap teriakan takbir yang lantang. Di setiap gema-gema perjuangan itu. Arruhul jadiid fii jasaadil ummah. Dan, satu kesatuan yang teramat kokoh itupun terbentuk. “Inilah kami! Inilah kami! Pejuang asma-Nya! Ruh baru yang akan memberi warna pada hitam-putihnya film nyata perjuangan ini.”

Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, ketika ‘proyeksi’ dari para qiyadah itu telah berbeda-beda lajnah dan wajihahnya, namun, tetap dalam satu tujuan yang sama, “membentuk peradaban yang futuh”, yang insya Allah menjadi awal dari kebangkitan Islam itu, teriakan lantang perlahan memudar. Memudar, hingga tersisa beberapa orang saja yang masih menyuarakan suara seraknya, memekikkan takbir, mengobar semangat perjuangan. Sebagiannya seperti tengah mengalami dilatasi yang begitu jauh dari titik tolaknya. Ke mana rona-rona penuh semangat itu? Mengapa hanya sisa pudarnya yang kita dapati? Ke mana binar-binar mata yang mengaumkan “Hamasah!” itu??? Kenapa berganti tatapan sayu yang mengundang kita untuk menjadi lesu? Ke mana???

Mengenai fenomena ini, sungguh, aku teramat sedih. Ketika ada saudara/saudariku yang tiba-tiba menghilang dari orbit peredaran da’wah. Teman seperjuangan yang dahulu bersamanya kita berjalan bersisian, menapaki langkah, mendaki terjalnya tebing jalan ini, kini entah di mana tercecer jauh. Menghilang begitu saja. Ada yang alasannya kecewa dengan keputusan majlis syuro, kecewa dengan murabbi, tidak save dengan environtmental wajihah yang diamanahkan,. Padahal, sungguh, bukan untuk kesenangan dan mencari tempat yang nyaman lagi teduh kita berada di jalan ini, bukan? Jika hanya ingin memlih tempat nyaman, kenapa harus memilih jalan ini? Lalu, Di mana letak kesalahannya?? Ada pula yang dengan alasan waktu. Sungguh, sebuah alasan yang hampir-hampir tak masuk akal. Bukankah banyaknya waktu luang justru lebih banyak menyebabkan seseorang terjatuh?

Atau, kitakah yang kurang peka dengan saudara-saudari kita? Melaju terus ke depan, lalu lupa menengok ke samping kiri dan kanan, kemudian terhenyak dengan kenyataan bahwasannya seseorang yang berada di samping kita ternyata kini telah jauh tertinggal di belakang. Kalau begitu, di mana ukhuwah kita?? Apalah arti do’a rabithah yang senantiasa kita lafadzkan di setiap pertemuan kita, jika pada akhirnya kita bungkam melihat saudara kita yang tercecer? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melaju sendiri dan melupakan saudara-saudara kita yang tertingal beberapa langkah di belakang barisan ini.

Kembali pada sesuatu yang bernama seleksi alam, dalam menapaki berbagai warna wajah perjuangan ini; Sebanyak apa orang yang bertahan, namun, tak pula sedikit pula yang kemudian berguguran dan meminggir dengan berbagai alasan. Tapi, janji Allah itu pasti. Bahwasannya Dia akan mengganti dengan generasi-generasi yang lebih baik (semoga kita bukan orang yang tergantikan itu, sebab kita semua sudah sama-sama tahu bahwasannya dengan atau tanpa adanya kita di jalan ini, da’wah itu pasti akan tetap ada). Berbahagia sekali rasanya, di balik keterceceran itu, bertumbuhan tunas-tunas baru, pun dengan semangat baru. Allahu akbar!!! Kembali menjadi putaran siklus… arruuhul jadiid….

Teruslah bertahan…
Teruslah bertahan…
Teruslah bertahan, meski pun berat. Meskipun tubuh ini teramat letih.
Teruslah bertahan, meski beban yang menggelayuti pundak ini semakin berat,.
Teruslah….
Cukuplah Allah saja yang akan menjadi penjaga kita di kala kita pun menjaga-Nya di palung terdalam jiwa kita..
Tidak ada kata istirahat untuk jalan ini, kecuali jika kedua kaki kita telah menginjak surga. Allahu akbar!! Sebab, istirahat dari jalan ini sebelum mencapai titik terakhir, sama saja dengan cuti untuk selamanya dari wasilah-Nya yang agung ini.

Hingga, kita sampai pada perjuangan yang penuh onak dan duri itu. Ada cercaan yang begitu meninggalkan luka menganga di hati-hati kita. Ada penghinaan. Dan, bukankah memang demikian karakteristik jalan ini? Pergolakan itu takkan pernah berhenti sampai Islam menjadi nafas bagi seluruh ummat manusia. Kecaman itu takkan pernah usai sampai panji asma-Nya berkumandang di setiap hati umat manusia. Dan, itulah tugas kita. Yah, tugas kita yang sesungguhnya! Pada perjuangan dengan air mata dan darah, bahkan nyawa.

‘Musuh’ kita saat ini bukan hanya para kafirun yang mencoba menciumkan aroma pemurtadan bersenjatakan jin salibis saja, yang memang nyata-nyata menyatakan permusuhannya terhadap agama yang hanif ini, tapi, juga mereka-mereka yang mengucapkan syahadat, namun, batok kepalanya telah diracuni suatu zat toksis bernama liberalis, sekularis, sosialis, nasionalis buta, marxis, dan sederet nama-nama sejenis. Paham-paham yang mendewakan sesuatu selain kepada Rabb yang agung saja.

Bersabar saja dengan hujatan itu. Bersabar saja dengan makar-makar yang mereka rencanakan, dengan tatapan sinis mereka. Mereka yang telah merasa dirinya memperjuangkan kepentingan masyarakat. Bersabarlah dengan luka-luka yang mereka torehkan di tubuh-tubuhmu, wahai para penjuang Allah!! Sungguh, Allah sebaik-baik pembuat makar.

Kisah tragis dan sinis serta anarkis itu, sesungguhnya telah membuat hatiku teriris. Bukan hanya di sini saudaraku, di belahan bumi lain pun jua mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Seperti yang engkau tahu, dan aku yakin engkau semuapun sudah tahu, bahwasannya bukan hanya kita yang merasakannya. Barangkali engkau semua jauh lebih tahu soal ini dibandingkan aku.

Semoga Allah sedikan balasan dengan sebaik-baik pembalasan bagi engkau para pejuang asma Allah, para ruh yang menjadi mesin penggerak tak takkan pernah berhenti bekerja, mengoperasikan sebuah tatanan perjuangan panjang, melelahka, penuh onak dan duri, lagi terjal serta dikelilingi oleh jurang. Jika tidak hati-hati, maka akan mudah saja tergelincir ke dalam jurang menganga itu.

Tapi saudaraku, di tengah kemelut perjuangan yang panjang itu, di tengah kelelahan bahu-bahu yang menopang, ada pula sesuatu yang membuat resultan energi da’wah ini diperpendek, menuju polar negatif. Sungguh-sungguh, sangat janggal sekali, di kala saudara-saudara yang berjuang dengan peluh, air mata dan darah itu, ada pula yang mencipta moreng di wajah da’wah. Berkembangnya virus-virus merah jambu yang bukan memberikan warna cerah pada da’wah, melainkan kelabu, dengan melayang-layangnya SMS perhatian dan hal-hal yang tak penting dan kerancuan-kerancuan sejenis. Memang warnanya merah jambu, tapi, bukan rona yang sama yang dihadirkannya pada jenak-jenak perjuangan ini. Dan yang anehnya lagi, virus itu telah menjadi hal yang dianggap “biasa-biasa” saja. Menginvasi begitu banyak aktivis da’wah, hingga sel-sel sehat pun ikut dijalarinya.

Okelah, setiap orang punya masa lalu, yang mungkin memang kelabu dan adalah langkah yang benar ketika ia telah berusaha memperbaikinya. Akan tetapi, pada kenyataan di lapangan, bukannya malah berkurang virus itu malah bertambah. Antiviral bernama “dauroh hijab & ikhtilat”, tak cukup untuk membantu imunitas sistem kita dalam menangani virus itu. Canda-canda antar ikhwan dan akhwat menjadi pemandangan yang lumrah dan biasa saja. Sangat lumrah saja, ketika diskusi-diskusi minus hijab beserta canda tawa yang telah melewati batas itu terlihat di berbagai tempat. Bahkan, aku pernah melihat ikhwan dan akhwat bercanda sambil lempar-lemparan kertas di suatu perpus. Di sebuah perentalan buku muslimah, ada lagi ikhwan dan akhwat yang hanya berduaan saja di dalamnya. Ada banyak lagi rentetan masalah serupa. Yang dahulunya disegani oleh aktivis kiri, kini malah dilecehkan. “Aktivis da’wah aja begitu.” Demikian kata mereka.

Baiklah, environmental da’wah hari ini memang lebih divergen dan menuntut adanya keluwesan dalam interaksi. Dan lagi, adalah hal yang mustahil da’wah ini akan diemban oleh ikhwan dan akhwat yang terpisah. Semua itu memang mengharuskan terjalinnya sebuah interaksi. Sebaliknya, bukan pula kekakuan yang mematikan potensi, kebisuan dan ketertutupan antar ikhwan & akhwat yang dimaksudkan dengan menjaga hijab itu. Akan tetapi, menempatkannya pada posisi yang proporsional. Yah, letak perbedaannya hanya pada penempatan yang proposional itu tadi saja. Tidak berlebihan, dan tidak pula tertutup dan kaku.

Bukan itu saja saudaraku, ternyata ekslusifme di kalangan aktivis da’wah itu masih berasa. Barangkali, karena itu pula saudara-saudara kita yang lain yang berada di zone pergerakan yang berbeda (baik itu latar belakang, tujuan, dan titik tolaknya) men-judge kepentingan-kepentingan yang kita perjuangkan itu bukan kepentingan ummat melainkan kepentingan satu golongan saja… Meraka yang tidak mengerti tentang apa yang kita perjuangkan, karena antara kita dan mereka masih bagaikan dua fasa disperse yang terpisah. Di mana, setelah mencapai titik euthetik, semuanya kembali seperti fasa semula. Memang, kecendrungan kita adalah lebih dekat dengan teman se-fasa seperti prinsip “like dissolve like”, namun, tak ada salahnya kita lebih ‘membuka diri’. Berbaur tapi tak lebur…

Baiklah,…
Barangkali perjalanan ini masih panjang. Waktu yang tersedia tidak lebih banyak dari kerja panjang da’wah yang harus dilakukan. Bahkan, ketika kita telah berlalu meninggalkan kampus, perjuangan itu insya Allah masih akan tetap berlanjut. Kemenangan itu bukan terletak pada terpilihnya salah satu ikhwah kita sebagai pemegang tampuk kepemimpinan tertingga di tatanan masyarakat, tapi pada kerja nyata apa yang telah kita perbuat. Pada perubahan-perubahan apa yan telah kita ciptakan. Pada kontribusi apa yang telah kita berikan. Perjuangan itu bukan hanya tugas pemegang tampuk kepemimpinan itu, tapi, kita semua sebagai penyokongnya. Seperti kata ustadz yang telah sering kita dengar, mobil itu sebagus apapun takkan dapat berjalan tanpa pentil. Semoga kita menjadi pentil-pentil yang kokoh. Berjuang, meski tak terlihat, tak teraba, bahkan keberadaannya tak terlalu diperhitungkan. Namun, ketika tiada, ia dicari. Memang, sebuah mobil akan terlihat dari bagusnya bodinya, mengkilatnya warnanya, bagusnya mesinnya,. Itu secara kasat mata. Tapi, perjuangan sebuah pentil pun akan melengkapi kesatuan kokoh bernama mobil itu tidak pernah bisa dipandang sebelah mata atau dinafikan begitu saja. Dan yang pasti, Allah akan membalasi semuanya. Tiada yang luput dari pengawasan-Nya.

Jangan pernah berpikir, bahwasannya banyaknya amanah di berbagai wajihah yang diemban oleh seseorang memiliki linearitas dengan kualitas dirinya. Percayalah, di manapun posisi kita, kita semua adalah penting. Kita semua adalah jundullah! Kita, adalah penjuang agama Allah. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, pasti akan dibalasi-Nya, Dzat yang Maha Teliti, Maha mengetahui segala rahasia hati, yang tersirat maupun tersurat. Tiada hal-hal besar, kecuali diawali dari hal-hal kecil.

Semoga Allah menjadikan kita golongan orang-orang yang sedikit itu, golongan orang-orang yang istiqomah di jalan-Nya. Golongan orang-orang yang memilih jalan yang sulit, namun dengan ending yang berbahagia… Sebab ada kehidupan yang sesungguhnya nantinya. Abadi. Hari inilah kita memilih, apakah kebahagiaan abadi dan kemenangan yang nyata, atau kesengsaraan abadi dan siksaan yang tiada henti.


www.fathelvi.blogspot.com

Selengkapnya