Oleh Syaripudin Zuhri

Perlukah Hari Ibu diperingati ? Mungkin sebuah pertanyaan yang yang dapat mengusik rasa atau mengusik kebiasaan yang selama ini sudah berjalan lama sekali, bukan satu tahun duan tahu, tapi sudah puluhan tahun atau beberapa dekade Hari Ibu selalu diperingati, ada yang mengkin mempergunakan acara tersebut untuk "balas dendam" pada bapak-bapak atau "ngerjain" bapak-bapak mumpung lagi Hari Ibu.

Ada suasana lain yang biasanya dilakukan menjelang atau disaat Hari Ibu, ya suatu hari yang biasanya dipringati dengan berbagai acara yang terkadang menjadi klise, loh kok bisa? Iya, karena biasanya pada hari ibu dimaknai dengan pemutar balikan peran, antara Ibu dan bapak, siapa yang memaulai tradisi tukar peran ini? Saya tak tahu, dan kalau di cari sumbernya jangan-jangan semua pembacapun tak tahu. Iya, di Hari Ibu biasanya di adakan lomba dan lombanya ya tukar peran itu, sang bapak melakukan peran ibu dan ibu duduk manis melihat sang bapak yang sedang melakukan pekerjaan ibu sehari-hari.

Apa itu? Ya biasanya memasak, dan agar mudah yakh lombanya masak nasi goreng! Bahkan ada yang berlebihan, setelah nasi goreng itu selesai di buat, sang bapak membawanya dengan cara berjongkok dan membawa nampan atau piring ke istrinya, lagi mau-maunya, ikut lomba seperti itu! Menghormati istri kok smapi harus berjalan jongkok dengan membawa nasi goreng yang di piring atau di nampan, itu yang menurut saya berlebihan. Ya boleh-boleh saja menghormati istri, mengadakan lomba, ya tapi kaalu sudah berlebihan rasanya kurang elok. Ya mbok biasa-biasa saja toh.

Lagi pula menghormati istri tidak mesti demikian, mengapa harus lomba masak memasak? Apa tidak ada acara lain yang lebih elok dalam menghormati, tepatnya menyayangi istri. Misalnya dengan lomba menulis kreatif, memajukan peranan ibu yang lebih kuat, membentuk atau mengelola sumber daya keibuan yang masih terpuruk di desa-desa atau di tempat-tempt kumuh dan lain sebagainya. Mungkin di sana, masih banyak sekali ibu-ibu yang menangis, menangis dalam arti sebenarnya, karena tingginya biaya hidup, mahalanya biaya sekolah, kurangnya pendidikan untuk anak-anak mereka dan lain sebagainya.

Hari Ibu, bisa menjadi sarana intropeksi diri dari bangsa ini, bahwa dalam mempringati Hari Ibu, bukan hanya acara seremonial belaka, yang biasanya di tempat-tempat atau kantor resmi pemerintahan, diadakan upacara dan upacar itu selalu dibacakan bagaimana lahirnya Hari Ibu, yang di ulang- di ulang lagi, seperti kehilangan maknanya. Padahal di luar kantor-kantor resmi tersebt banayak sekali ibu-ibu yang sedang menagantri untuk pemabagaian jatah bantuan dari pemerintah atau sedang antri minyak goreng bersubsidi, bisa juga sedang antri seliter dua liter minyak tanah yang sekarang susah di dapat, karena adanya konversi dengan gas, yang seringkali meledak dan menimbulkan korban jiwa!

Di Hari Ibu, masih banyak ibu-ibu yang menangis dalam arti yang sebenarnya, juga ibu pertiwi kita, yang mungkin saja sering menangis dengan adanya bencana alam di sana sini, baik di Mentawai, Merapi dan laian sebagainya. Mungkin juga Ibu pertiwi menagis dengan banyaknya TKW-TKW, yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga atau calon-calon ibu rumah tangga, yang dengan "terpaksa" meninggalkan sanak keluarga di tanah air, untuk menyambung hidup di negara orang, atau mencari sepotong roti!

Ya banyak sekali ibu-ibu yang masih menangis, menangis dalam arti sebenarnya, Ibu pertiwipun menangis melihat "anak-anak" gadisnya yang entah akibat pergaulan, sering kali, sudah "menabung" kehamilan sebelum saatnya! Ya banyak sekali gadis-gadis, yang, maaf, begitu mudahnya mengorbankan kesucian atau keperawanan dirinya, dengan alasannya yang sangat termakan oleh modernisasai yang kebablasan! Bahkan banyak anilisis bidang begituan, yang tanpa memegang norma agama atau etika, mengecilkan arti kesucian diri seorang wanita! Ya dunia memang mau kiamat, dosa-dosa besar perzinahan, dianggap seperti hala biasanya saja, pantas saja Ibu pertiwi murka, pastas saja benca di mana-mana, karena manusia bangga dengan dosa-dosa.

"Akh itu kan hal biasa", itu kata orang-orang yang tak bermoral, tak beretika, berzinah kok biasa? Aneh-aneh aja, orang yang, maaf, berpolygami, yang jelas-jelas di bolehkan, eh dikecam habis-habisan, eh orang-orang yang berzinah terang-terangan, orang-orang yang kumpul kebo, kumpul sapi, kumpul kambing dan lain sebagainya, eh malah di diamkan saja, "akh itu kan biasa" gila benar! Pantas saja banyak sekali ibu -ibu yang menangis di Hari Ibu, menangis dalam arti sebenarnya, karena banyak sekali anak-anak gadisnya yang karena kata " akh biasa itu" telah menjadi korban medernisasi, sehingga banyak ditemukan kasus seorang gadis telah hamil sebelum menikah!

Bahkan dengan entengnya, mereka yang "menghalalkan" pergaulan bebas, kesucian atau keperawanan itu tak perlu, toh laki-laki juga tak dituntut"keperjakaannya", gak adil dong, itu kata mereka! Maka lahirlah generasi yang menganggap perzinahan itu hal biasa, astagfirullah! Pantas saja di Hari Ibu, banyak ibu-ibu yang menangis, menangis dalam arti sebenarnya, bukan menangis dalam arti kiasan, loh mengapa mereka menangis? Ya lihat saja, banyak sekali anak-anak gadis mereka yang sudah kebablasan mengertikan modernisasi, seakan dengan modernisasi orang boleh berbuat semauanya, boleh melanggar norma-norma agama dan susila, boleh bergaul sebebas-bebasnya, boleh mengadakan "hubungan" suami istri, padahal belum menikah atau boleh berzinah, persis binatang, yang kalau mau kawin, ya kawin aja dimana aja mereka suka, tanpa perlu menikah lebih dahulu!

Pantas saja banyak sekali ibu-ibu menangis, menangis dalam arti sebenarnya, karena banyak sekali anak-anaknya yang sudah di luar kontrol mereka, terutama saat di luar rumah. Prihatin memang, maka di Hari Ibu, kita ajak kaum ibu untuk menjaga anak-anaknya, jangan sampai,bapak sudah bekerja, ibu di luar rumah, dan anak-anakpun "tak terurus", akhirnya, anak yang kurang perhatian mencari perhatian di luar rumah, maka terjadilah apa yang terjadi! Dan bila sudah "kejadian" barulah ibu-ibu menangis, mengapa " itu" bisa terjadi?

Di Hari Ibu, kita jadikan sarana intropeksi diri, mari kita merenung diri, jangan-jangan karena semuanya sibuk di luar rumah, akhirnya di rumahpun yang ada hanya pembantu rumah tangga, bapaknya entah di mana, ibunya mungkin sedang arisan atau yang lainnya dan sang anak mencari kesibukan sendiri, sukur kalau yang positif, kalau yang negatif, maka yang terjadi, terjadilah!

Jadi dengan Hari Ibu, rasanya lebih tepat merenung, jangan-jangan ada yang salah, ketika saat mendidik anak-anak, atau menghadapi suami, atau suamipun merenung, jangan-jangan ada yang salah ketika memperlakukan istri, karena istrimu adalah pakaianmu, maka jaga pakaian itu, jangan sampai lecek atau kotor dan kalau ada salah dari istri atau suami, itu aib keluarga, bukan lantas jadi "santapan" atau bahan gunjingan di kantor dengan teman-teman!


Saya rasa itu paling tepat memaknai Hari Ibu, ketimbang bikin acara, hura-hura dan lain sebagainya, apa lagi membuat lomba yang berlebihan seperti di atas, jadi kalau gitu tak boleh lomba ? Ya boleh boleh aja, tapi yang kreatif dikit gitu, masa asal Hari Ibu lombanya masak nasi goreng melulu!

Ya semoga saja di Hari Ibu ibu-ibu semakin bahagia dan istri-istri semakin sejahtera dan kelurga semakin harmonis, kasih sayang semakin terbentuk dan semoga tak lagi kita mendengar anak-anak gadis yang "kecelakaan", sehingga ibu-ibu menangis, yang ini mungkin mustahil di tengah-tengah aksi internet yang siapapun bisa membukanya, ya paling tidak makin berkurang dan kesadaran tinggi muncul, bahwa apapun namanya perzinahan tetap perzinahan, walaupun di bungkus dengan kasih sayang, moderisasi, era modern dan lain sebagainya, namun yang jelas perzinahan itu bukan era muslim.

Oke sekian dulu, SELAMAT HARI IBU, semoga ibu-ibu menjadi ibu-ibu yang sejati dan ibu-ibu yang hakiki dan semoga Ibu Pertiwi tak menangis di hari Ibu!

Selengkapnya